Namaku Rico (20 tahun),
seorang mahasiswa perantauan yang kuliah di ibukota. Aku mau bercerita
tentang pengalaman gilaku di sebuah kost-kostan mahasiswa. Kost-kostan
itu untuk campur pria dan wanita, beberapa dari penghuninya mahasiswa
seperti aku dan beberapa lainnya karyawan. Sebulan pertama segalanya
nampak normal-normal saja, tapi beberapa hari setelah bulan kedua
barulah aku tahu rahasia seram (atau seru? tergantung dari mana
melihatnya) di tempat itu. Hari itu aku sedang bersiap-siap mau
berangkat kuliah siang ketika kulihat dari seberang kamar Hany (19
tahun), gadis cantik di kamar seberang yang berpayudara montok, keluar
dari kamarnya ke kamar mandi tanpa memakai apapun kecuali sandal jepit.
Handuk saja cuma ditenteng dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya
menenteng peralatan mandinya.
Kulitnya yang putih mulus ditambah bodinya yang langsing dengan tinggi
badan yang termasuk sedang serta bongkahan pantatnya yang bulat indah
langsung membuatku menelan ludah melihatnya. Aku yang masih pria normal
terang saja terangsang disuguhi pemandangan tak terduga ini dan langsung
terkena komplikasi mata-jantung-kemaluan. Mataku melotot melihat tubuh
telanjangnya,
jantungku langsung berdegup kencang, dan darahku langsung
mengalir ke bawah mengisi pembuluh darah di penisku hingga menegang.
Setelah masuk ke kamar mandi, entah sengaja atau tidak, Hany sedikit
menutup pintu untuk menggantungkan handuk dan pandangan matanya bertemu
dengan pelototan mataku. Anehnya ia tidak terlihat kaget, malah
tersenyum menggoda dan sedikit meremas payudaranya sendiri. Yang lebih
membuat jantungku semakin berdebar-debar, tanpa terlebih dulu menutup
pintu kamar mandi ia mengarahkan gagang shower ke tubuhnya dan mengguyur
badannya dengan santai-santai saja seakan aku yang menonton dia mandi
adalah hal yang normal. Beberapa saat setelah membilas tubuhnya untuk
membersihkan sabun di badannya ia menoleh ke belakang dan tersenyum
nakal melihat padaku yang daritadi terbengong di depan pintu kamarku.
Kuliah langsung terlupakan begitu dia menggunakan jemari telunjuk
kanannya untuk mengajakku ke kamar mandi. Langsung saja aku melemparkan
diktat kuliahku ke kamar dan melepas seluruh bajuku, termasuk CD-ku,
sehingga burungku yang sudah bangkit dari tadi langsung seperti terbebas
dari sangkarnya. Lalu aku berjalan dengan agak pelan ke kamar mandi
bersama itu. Tanpa malu-malu Hany menyambutku dalam keadaan tanpa busana
seperti itu. Saat aku masuk ke kamar mandi ia cuma tersenyum.
"Eh Rico...lu belum pernah mandi bareng cewek ya?"
span style="font-family: Century Gothic;">
"Pernah sih sama mantan gua dulu, tapi kalau yang seseksi kamu belum"
jawabku sambil mengagumi keindahan tubuhnya yang menggiurkan dalam
keadaan basah seperti ini, terutama bagian payudara dan pinggulnya yang
semok itu.
Ia memutar tubuhnya hingga memunggungiku dan diraihnya kedua tanganku
dan menggiring keduanya ke payudaranya yang bulat itu. Aku lalu meremas
puting gumpalan kenyal itu sambil sedikit mengusap-usap dengan gerakan
melingkar yang lembut. Bibirnya yang indah mengeluarkan desahan yang
membuat birahiku semakin membara.
"Aaahh.. eemmhh.. eemmhh.." saat ia sedikit menoleh ke samping, langsung saja kulumat bibirnya itu.
Desahannya sedikit tertahan dan bercampur dengan lenguhanku. Lalu tangan
kiriku mulai mencari klitorisnya dan mulai menggesek-gesekkan jariku ke
daging sensitif itu dengan lembut. Desahannya semakin menggema di dalam
mulutku dan dipantulkan oleh dinding kamar mandi. Aku sudah tak sabar
lagi memasukkan penisku ke vaginanya. Maka setelah lima menitan
ber-french kiss dan grepe-grepe, aku membalikkan tubuhnya hingga
menghadap ke arahku. Tapi ia menolak sambil melepas pagutanku.
Sambil sedikit mendesah ia bilang, "Gini aja, lebih kerasa sodokannya!"
seraya menunggingkan pantatnya ke arahku dan menyandarkan lengannya ke
tembok.
Oke deh, pikirku sambil mendorong punggungnya supaya ia lebih menunduk.
Tangan kananku memegang batang penisku dan mengarahkan ke vaginanya yang
telah siap menanti. Setelah menempel pas di bibir vaginanya, langsung
saja kutekan batang kemaluanku yang sudah tegang hingga amblas ke
dalamnya dengan perlahan.
"Aaarrgghh..!!" Hany mengerang panjang
"Kenapa Han? Sakit?" tanyaku sambil meremas payudaranya
"Agak sih....tapi enak...banget Ric.. uuhh.. aargghh.."
Memang batang kemaluanku terjepit cukup ketat di antara dinding
vaginanya yang berdenyut-denyut sehingga terasa seperti dipijat. Sekali
lagi Hany mengerang lumayan keras waktu aku mulai mendorong pinggulku
maju mundur. Vaginanya makin becek sehingga penisku semakin enak
keluar-masuk liang senggamanya itu. Sensasi yang kuperoleh pun rasanya
luar biasa sekali membuatku juga mulai mendesah-desah keenakan. Aku
memegangi pantat seksinya dan sesekali menamparnya dengan gemas. Lalu
kutempelkan dadaku ke punggungnya dan mulai meremas-remas payudara
montoknya yang menggantung berat. Pasti teman-temanku tidak percaya
kalau aku berhasil bercinta dengan Hany, the most wanted girl in campus
to sex with! Sungguh gadis satu ini benar-benar menggairahkan.
"Uuuhh.. aahh.." desahku ditimpali pekikan Hany.
Tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat mulai menjalar ke ujung kepala
batang kemaluanku. Tanpa sempat kutahan, air maniku pun keluar sebagian
di dalam vagina Hany karena belum sempat kecabut keluar, sedangkan
sebagian lainnya bercipratan di pantat Hany. Pada semburan berikutnya
Hany sempat berputar dengan cepat, berlutut di depanku dan menerima
semprotan air maniku di wajah cantiknya. Ia membuka mulutnya menerima
spermaku yang menyemprot semakin lemah. Setelah itu ia mulai menjilati
seluruh cairan putihku di wajahnya dan mengusap-usap pantatnya untuk
menyeka maniku yang ada di punggung dan pantatnya lalu itu dijilatnya
sampai habis. Aku merasa agak lemas setelah orgasme tapi sangat puas dan
parahnya aku kepingin lagi, hehehe...so pasti lah! Hany yang mengetahui
pikiranku berkata,
"Ric lanjutin saja di kamar aja yuk, dingin nih disini"
"Ok...kamar gua atau kamar lu Han?"
"Kamar gua ajalah. Kamarlu kan berantakan!" jawabnya tersenyum nakal
Aku nyengir malu. Lalu tiba-tiba aku mengangkat tubuhnya dan kugendong
dia ke kamarnya. Tubuhnya yang masih sedikit basah dengan air semakin
membuatnya tampak menggairahkan karena nampak berkilauan di bawah sinar
matahari. Sesampainya di kamarnya aku rebahkan dia di ranjangnya dan aku
mulai menjilati semua sisa-sisa air yang menempel di tubuhnya. Dia
mulai mendesah-desah lagi saat kujilati puting coklatnya yang sudah
kembali mengeras. Ia lalu meraih kepalaku dan menekannya sehingga aku
terbenam dalam-dalam ke payudaranya. Aku yang sudah konak berat mulai
mengenyot dan mengigiti putingnya dan sambil meremasinya. Desah
kenikmatan Hany pun mengisi kamar berukuran sedang itu. Setelah merasa
puas menyusu payudaranya, aku mulai mengarahkan batang kemaluanku yang
sudah keras lagi ke dalam vaginanya. Dia memekik kaget saat penetrasi
dan langsung kugenjot habis-habisan. Jepitan dinding vaginanya
benar-benar legit sampai aku mengerang-erang nikmat sekali dan ia
sendiri menjerit-jerit keenakan. Lalu aku melumat bibir tipisnya dan dia
juga membalas dengan bergairah. Dada kami bergesekan dan sensasi yang
ditimbulkan benar-benar aduhai. Lalu selang beberapa menit kemudian aku
keluar lagi tanpa sempat kutahan.
"Han.. eemmhh.. keeluuaar.. dii.. daaleemm.. nniihh.." kata-kataku terputus-putus oleh erang nikmat dan sensasi orgasme.
"Nnggakk.. papa.. kooqq.." rupanya dia juga mengalami sensasi yang sama.
Lalu aku ambruk di sampingnya untuk istirahat. Hany juga lelah kelihatannya.
"Rico.."
"Ya?"
"Welcome to the club!" katanya membuatku heran.
"Apa...what club?"
"The Orgy Club! Gini lho di sini, di kost-kostan ini, sex is totally
free. Sama cewek manapun di kost ini, kamu boleh main semaumu. Dan kalau
ceweknya tidak mau, kamu boleh perkosa dia. Di sini ceweknya adalah
budak seks. Aku, Angeline, Amel, sama Sabrina yang indo bule itu adalah
budak-budak seks cowok di sini. Terus Alex, Leo, Anton, Joko, Mario,
Indra, bahkan Om Deddy yang punya kos plus istrinya, Mbak Eva, lalu Pak
Kasimun si penjaga kost ini, dan sekarang kamu berhak merkosa kita
berempat.Tapi kami juga boleh minta main kalau kepingin. Pokoknya
totally free deh!"
Tentu saja aku agak kaget dan terperangah mendengarnya.
"Semua orang?" tanyaku.
"Pokoknya syaratnya adalah kamu orang kost di sini. Benernya kamu diajak
Indra kost ke sini bukan cuma untuk menghibur kamu yang baru putus sama
mantanmu tapi karena dia juga denger kamu orang yang asyik soal seks.
selama sebulan ini kami sudah menyelidiki kamu apakah kamu pantas atau
nggak masuk klub ini, dan ternyata kamu cocok, selamat ya!" katanya
sambil mencium bibirku
Perasaanku campur aduk, bingung, kaget juga senang. Ternyata Indra punya
tujuan lain mengajakku ngekost di sini. Dia ingin aku dapat melupakan
Sarah yang selingkuh dan mengenalkan dunia sex yang lebih bebas. Wah
thank's Ndra! Lu emang sobat mesum yang baik
"Jadi gua berhak main dengan kalian cewek berempat walaupun kalian tidak mau?"
"Yup! Selain itu ada juga anggota dari luar kost yang sudah kita seleksi untuk meramaikan klub?" jawab Hany dengan tersenyum.
“O gitu? Misalnya...?”
“Ada si Melinda, pacarnya Leo itu, terus Bang Obar si tukang anter galon
air, Pak Somad, tukang nasi goreng keliling langganan anak-anak di
sini, terus Mbak Tari sama Mbak Mirna, mereka juga available loh!”
“Mbak Tari? Mbak Mirna yang mana?”
“O iya dasar cowok, itu karyawati yang kerja di butik deket kampus, itu kan punya Mbak Eva”
“Pantes gua ga tau, ga pernah main ke butik, kalau tau gitu, tar
kapan-kapan main ke sana juga ah hehehehe!” kataku, “ckk...ckkkk...gua
baru tau ada perkumpulan segila ini, maklum anak kota kecil hehehe...eh
tapi apa aman Han, kalau kena grebek aparat kan berabe tuh?”
“Tenang...Om Deddy punya temen di kepolisian yang jadi backing kita, Pak
Usno, itu tuh kan lagi kapan tuh kita lagi main PS3 di ruang tengah,
ada bapak agak gemuk yang datang itu”
“Ooo...itu jadi dia itu polisi ya?”
“Iya, sebagai balas jasanya dia juga dapet jatah dari kita cewek-cewek
di sini”, terangnya, “terus, satu lagi ini pasti lu suka Ric!”
“Wah apa lagi nih?” aku semakin penasaran dibuatnya.
“Klub kita ini, setiap bulan weekend pertama ngadain orgy di rumahnya Om
Deddy. Di sana acaranya seru deh, ada game-game nakal, tuker-tukeran
pasangan, ujung-ujungnya ya orgy party lah!”
Aku benar-benar kehabisan kata-kata, percaya tidak percaya, tapi aku
benar-benar telah di klub ini dan mengalaminya sendiri. Sungguh dalam
hidup ini banyak hal yang di luar dugaan dan pengetahuan kita.
“Ooo..., jadi waktu kapan itu gua balik ke sini sampe malem ga ada
siapa-siapa selain Pak Kasimun, ternyata lu orang lagi party ya? Pantes
besok paginya gua liat muka lu orang pada lemes gitu”
Hany mengangguk mengiyakan
"Emm.. weekend kan tiga hari lagi nih. Kali ini gua boleh dateng dong?"
"Like i Just said to you, lu kan udah anggota klub ini sekarang. Jadi lu berhak ke sana."
“Wah sik, asyik....asyik...beneran nih? ga sabar gua nunggunya!” aku
kegirangan mendengarnya, seperti mimpi saja, tapi semuanya nyata, aku
baru saja mengalaminya sendiri dengan teman sekampusku ini.
"Well...well, jadi calon member baru ini udah lolos seleksi ya!" tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu.
Kami menoleh ke arah pintu yang lupa kututup. Ternyata Angeline sudah
berdiri di ambang pintu. Angel (24 tahun) adalah seorang pramugari
sebuah maskapai penerbangan lokal, maka tidak heran ia memiliki tubuh
yang ideal, tinggi 172cm dengan paha jenjang yang indah, ditambah
wajahnya yang cantik dengan rambut sebahu. Dia berdiri di depan pintu
dengan seragam merah pramugarinya sambil menarik koper kecil berodanya.
Sepertinya ia baru saja bebas tugas setelah kira-kira seminggu lamanya
tidak berada di kost karena tugas di luar.
"Eh Kak Angel, baru pulang nih?"
"Iya cape sih butuh istirahat sebenarnya, tapi mergokin lu orang lagi
ngentot gua juga jadi gatel nih" jawab Angel sambil menyandarkan bahunya
ke kusen pintu, “Ric, welcome to the club ya!
“Hehehe...iya Kak, omong-omong sekarang Kak Angel kepengen sama saya nih?” godaku
"Why not, sapa takut?" jawab Angel sambil wajahnya memerah menahan nafsunya.
"Tapi bentar ya, break dulu nih, cape baru garap si Hany nih!"
"Nih pake ini dong!" kata Hany sambil menarik laci di bufet sebelah
ranjangnya dan mengeluarkan sesatchet Irex lalu menyodorkannya padaku.
Langsung kusambar Irex itu dan kuminum dengan semangat. Kemudian aku
turun dari ranjang dan menghampirinya. Kudorong tubuhnya ke dinding dan
kupagut bibirnya yang disambutnya dengan panas. Sambil bercumbu, tangan
kami saling raba tubuh pasangan masing-masing. Aku menggerayangi
tubuhnya, roknya kusingkap dan kedua tanganku meremas bongkahan
pantatnya yang montok yang masih terbungkus pantyhouse hitamnya. Selang
beberapa menit kemudian pengaruh Irex tadi mulai terasa, tubuhku
berangsur-angsur segar dan siap memulai pertempuran berikutnya.
“Wow....udah keras lagi bo!” kata Angel yang memijat penisku yang mengeras perlahan-lahan dalam genggamannya
Kemudian ia langsung berjongkok di depanku, tanpa basa-basi dicaploknya
batang kemaluanku. Setelah mengusap-usap batang penisku yang di dalam
mulutnya dengan lidahnya, dia mulai mengocok-ngocokku dengan
memaju-mundurkan kepalanya. Kadang-kadang lidahnya menyusuri bagian
bawah batang kemaluanku dan mengemut buah zakarku.
"Aahh.. yaahh.. teruss.. terus...gituin Kak!" aku mendesah-desah, tidak
kuat menahan birahi dan aktivitas itu berlangsung agak lama.
Aku yang tidak sabar lagi segera menarik tubuh Angel dan mendudukkannya
di tepi meja di dekat pintu kamar, kuposisikan diriku di antara kedua
belah paha jenjangnya.
"Kak Angel, saya udah gak tahan nih!" pintaku di tengah kecupan-kecupan liar kami.
"Aku juga Ric! Cepat kerjai memekku!" balas Angeline dengan tatapan sayu memelas penuh nafsu.
"Hmm...Kakak bener-bener konak berat ya?" godaku sambil menciumi telinga dan lehernya.
"Nnngghh.. Give me that Rico! Please.." pinta Angeline
Aku memagut kembali bibirnya, sambil berciuman kupeloroti panty house
hitam beserta celana dalamnya, lalu kurenggangkan posisi kakinya agar
mengangkang lebar. Terlihatlah kini di hadapanku vagina vagina pramugari
cantik yang merekah merah segar, kontras dengan kulitnya yang putih.
Bulu-bulu di sekitar vaginanya terpotong rapi, menandakan bahwa ia
memang cukup telaten merawat organ kewanitaannya tersebut. Pemandangan
itu semakin membuatku tak henti-hentinya menelan ludah. Aku duduk di
kursi dan membenamkan wajahku ke selangkangan Angel dan mulai menjilati
liang kenikmatannya sambil kepalaku terus dipegang dan dijambakinya.
Sementara itu tanganku menyusup ke bawah kemejanya yang masih belum
terbuka, sampai di dadanya tanganku terus menyusup ke balik branya,
akhirnya kupegang dan kuremas payudaranya yang indah dan berkulit halus,
putingnya kupermainkan hingga terasa makin keras. Tak lama kemudian,
kurasakan daerah vagina Angel bergetar dan makin lama getarannya makin
hebat, hingga tak akhirnya saat aku sedang menggigit-gigit kecil
klitorisnya, Angel pun mengerang panjang disertai tubuhnya mengejang.
"Ooghh iiyyaahh.. Terrusshh.. Mmmppffhh.. Ghhaahh.." desah Angel mengeluarkan cairan orgasme dari vaginanya
Wajahku langsung tersembur oleh cairan bening yang hangat dari liang
sorgawi Angel. Dengan lahapnya aku menyeruput lelehan lendir kenikmatan
yang tak henti-hentinya meleleh dari dalam vagina Angel. Hal ini
tentunya membuat Angel yang baru saja mencapai orgasme dilanda rasa geli
yang amat sangat.
"Hhhaahh ssttoopp!! Sttoopp!! Ghiillaahh.. Ohh Sttoopp Sshh.." erang
Angel sambil berusaha menjauhkan selangkangannya dari wajahku.
Tetapi aku justru tak mau memindahkan mulut dan jilatannya sedikit pun
dari vagina yang sedang dibanjiri cairan nikmat itu. Aku tidak mau
melewati setetespun cairan gurih itu. Mulut dan wajahku pun belepotan
oleh lendirnya. Baru setelah kurasakan vaginanya telah bersih, aku
beranjak ke bibirnya. Dengan masih mengulum lendir dari vaginanya itu
aku menyuapkannya ke bibir indah di hadapanku. Angel langsung mengerti
apa yang akan kuperbuat terhadapnya. Ia pun langsung membuka mulutnya
seraya berkata,
"Ludahin! Ludahin ke aku Ric!" pintanya dengan tatapan sayu menggairahkan sambil meremas-remas lembut payudaranya sendiri.
Aku langsung meludahkannya ke dalam mulut pramugari cantik itu dan langsung disambutnya dengan desahan bergairah.
"Mmmhh...enakkhh!" bisik Angeline setelah menelan lendir kenikmatannya sendiri.
Aku yang semakin terbakar gairahnya melihat adegan itu melucuti pakaian
atasnya yang masih tersisa. Setelan luar, kemeja, dan bra-nya pun
berceceran di atas maupun meja kamar Hany hingga Angel pun telanjang di
hadapanku. Tubuh molek Angel membuatku melongo, sama indahnya dengan
Hany, namun lebih tinggi, dan payudaranya lebih kecil sedikit.
Pemandangan indah itu membuatku tak sabar lagi untuk memasukkan penisku
ke dalam vaginanya. Aku pun lalu menempelkan tubuhku ke tubuhnya yang
terduduk di tepi meja sambil menggesekkan penisku yang sejak tadi telah
menegang penuh di vaginanya.
"Woow...kerasnya!" kagum Angel sambil menggenggam penisku.
"Aaahh.. Kak Angel.." lenguhku saat jemari lentiknya menggenggam dan meremas lembut penisku.
Angel langsung mengocok penis di genggaman tangan kanannya itu dengan
penuh kelembutan. Sementara itu tangan kirinya mengusap-usap vaginanya
sendiri yang mulai basah kembali. Rupanya ia pun tak sabar ingin segera
disetubuhi. Dipindahkannya tangan kirinya yang sudah dibasahi lendir
kenikmatannya ke penisku dan dibalurinya penisku itu dengan lendirnya.
"Eeemmmh...anget Kak, enak!" bisikku sambil memejamkan matanya.
"Hhhmm?? Anget? Aku punya yang panas Ric!" tantang Angel sambil
menempelkan penisku ke bibir vaginanya. "Cepat Ric! Masukin kontol lu,
aku nggak sab Please.." katanya dekat telingaku
"Ooowwhh.. Mmmhh.." desahnya ketika kudorong penisku membelah bibir vaginanya.
Angel mendongak sambil memejamkan matanya menikmati penetrasi yang
kulakukan. Tanpa buang waktu lagi aku mulai menggoyangkan pinggulku
menghujam-hujam vaginanya. Penisku terasa seperti ditarik dan diremas
bersamaan karena seretnya vagina itu. Payudara Angel yang berukuran
sedang itu berguncang-guncang di hadapanku seolah mengundangku
melumatnya. Aku pun menyambar putingnya dengan gigiku dan menggigitnya
tanpa berhenti menggenjotnya. Beberapa barang seperti buku dan alat
tulis di atas meja Hany berjatuhan ke bawah karena tersenggol tangan
Angel yang sedang seperti cacing kepanasan.
"Sshh... enak Ric, enak bangethhh!!" ujar Angel mendesis.
Bagaikan kuda liar, Angel juga aktif menggoyangkan pinggulnya sampai
meja di bawahnya ikut bergoyang dan berderit. Keringat menetes dengan di
kening dan dadanya. Wajahnya yang cantik terlihat semakin cantik
meluapkan gairah di dalam dirinya.
"Ooohh.. Iyaahh terusshh Kak... Ssshh!" aku pun semakin meracau tak karuan.
Angel memelukku dengan erat, kuku-kuku di jarinya kadang menggores
punggungku dan kakinya melingkar di pinggang saya merapatkannya sehingga
penisku terasa semakin rapat di vaginanya. Tak henti-hentinya mulutnya
mengeluarkan desahan nikmat. Sembari menggenjot penisku dalam vaginanya,
tangan kananku meremasi payudaranya. Aroma parfum berkelas yang masih
terasa pada tubuhnya menambah sensasi erotis persetubuhan kami. Beberapa
lama kemudian kami mencapai puncak berbarengan, aku ejakulasi dalam
vagina Angel, spermaku muncrat mengisi liang vaginanya. Sementara Angel
memekik keras sambil mencengkeram pundakku, wajahnya terlihat sangat
menikmati orgasme yang baru saja dialaminya.
"Aaahh...aaahhh" ternyata masih terdengar suara desahan lain dari belakangku.
Wah, saking asyiknya dengan pramugari cantik ini, aku sampai lupa dengan
Hany. Ternyata dari tadi ia menonton kami sambil masturbasi dengan
vibratornya hingga orgasme. Dengan sisa-sisa tenagaku, aku mengangkat
tubuh Angel yang sudah lemas ke ranjang. Setelahnya aku membaringkan
tubuhku di samping kedua wanita itu.
“Gimana? Puas ga?” tanya Hany
“Whew...puas banget, gua ga nyangka bisa masuk klub seperti ini, gua
kirain yang ginian cuma ada di negara-negara Eropa” jawabku sambil
geleng-geleng kepala
“Kurang update lu Ric, jauh-jauh amat ke luar negeri, di Jakarta
sekarang juga udah ada kok” kata Angel, “kamu pernah baca Jakarta
Undercover ga?” aku mengangguk, “klub kita masih skala menengah atau
malah kecil lah kalau dibanding yang diliput di sana, banyak yang lebih
gila lagi”
Saat itu Amelia (20 tahun) lewat depan kamarnya Hany. Dia berhenti
sejenak dan mengerenyitkan dahi melihat kami bertiga bugil di ranjang
lalu meneruskan langkahnya ke kamarnya.
“Ehhh....!” refleks aku jadi salah tingkah dan meraih guling menutupi tubuh telanjangku
Melihat reaksiku Hany dan Angeline malah tertawa.
“Hihihi...kita maklum kok, kan pendatang baru...masih malu-malu, kita
dulu juga gitu, ya ga Han?” kata Angel menyikut pelan ke Hany
“Iya lah, biasa aja...tar ke sana pasti ga bakal malu-malu lagi, yang
ada mungkin malu-maluin!” timpal Hany lalu keduanya tertawa renyah
berbarengan.
“Iya ya hehehe...kan ini orgy club ya, jadi si Amel juga bisa dipake
dong?” tanyaku setelah baru sadar aku sudah jadi anggota klub,
“Kan gua udah jelasin tadi Ric, Amel juga gua sebut tadi” kata Hany
“Bener nih? Dia itu kan good girl di kampus, lu orang ga main-main kan?” aku makin penasaran dan antusias
“Ah...lu aja ga tau, si Amel emang di luaran ja’im Ric, tapi kalau udah
aaahh....aaahhh...aahhh...ganas loh dia hihihii!” sahut Angel
“Jadi gua bisa entotin dia? Terus katanya ada aturan kalau ga mau boleh diperkosa kan Han?” tanyaku meyakinkan
"Yoi man! Rape her as the way you like it!" Hany memberiku semangat.
Aku segera keluar dari kamar Hany meninggalkannya dan Angel untuk
mencari Amel tanpa memakai apa-apa, hanya sandal jepit. Seperti juga
Hany, Amel adalah teman kampusku, bedanya Amel sefakultas denganku
sedangkan Hany berbeda. Ia lebih tua empat bulan dariku dan terpaut satu
angkatan di atasku. Kami pernah sekelas dalam dua mata kuliah, dari
situlah aku mengenalnya walau tidak dekat. Maka ketika pertama kali
masuk ke kost ini, ia adalah orang yang kukenal selain Indra. Dari situ
kami semakin dekat karena aku kadang bertanya tentang kuliah dan juga
pernah meminjam diktat darinya. Selama ini aku menganggapnya cewek
baik-baik karena baik di kampus maupun di kost ia berpakaian biasa saja,
tidak terbilang seksi, paling kalau malam pakai celana pendek atau kaos
tanpa lengan, yang menurutku sih wajar. Memang aku pernah agak heran
ketika suatu hari tidak sengaja aku melihat Bang Obar, si tukang air,
keluar dari kamar Amel yang sebelumnya tertutup. Waktu itu sih tidak ada
pikiran negatif, mungkin baru membantu Amel memperbaiki dispenser atau
apa mungkin. Tidak kusangka ternyata ia anggota orgy club, yang berarti
bisa dipakai. Amel memiliki wajah yang manis dengan postur sedang,
sedikit lebih jangkung dari Hany. Payudaranya lumayan besar sehingga
kalau sedang memakai kaos ketat akan tampak sangat menantang.
Kulihat pintu kamar Amel setengah terbuka, tapi ia tidak ada di dalam.
Hmmm...mungkin dia ke lantai atas untuk menjemur baju. Segera aku
menaiki tangga ke atas. Benar saja Amel sedang mencuci. Saat kudatangi
ia dalam posisi berjongkok membelakangiku dan memasukkan cucian ke dalam
mesin cuci.
“Hah...Rico, mau apa?” ia membalik kaget begitu mendengar aku masuk dan menutup pintu.
"Hehehe...pura-pura ga tau ah lu Mel, kan aturan orgy club: setiap cewek
jadi budak seks. kalau gak mau boleh diperkosa. Ya kan?" tanyaku
berjalan mendekatinya
“Ehh...iya tapi...gak sekarang please...gua lagi ga pengen!” Amel terlihat panik sambil melangkah mundur.
“Makanya Mel, gua bikin lu kepengen deh, ketagihan malah hehehe!” aku semakin mendekatinya
Ketika Amel mundur untuk menghindar, dia langsung kepepet pada tembok di
belakangnya. Saat itu dengan sigap kupeluk badannya yang ramping dan
kudekap ke tubuhku.
“Jangan Ric...gila lu...jangan!!” Amel meronta berusaha lepas dariku.
Sementara aku melanjutkan aksiku. Tangaku menyingkap rok denimnya
sehingga paha mulusnya terekspos, kuraba dan kurasakan kemulusannya
hingga akhirnya tanganku menyentuh wilayah segitiga emasnya yang masih
terbungkus celana dalam. Jariku dengan liar mengelus-elus wilayah
sensitif itu, sebentar saja sudah terasa basah menembus celana dalamnya.
"Kok panik Mel? Lu juga kan anggota klub. Budak seks dong artinya!" kataku menggodanya.
"Ehh...tapi...eeemmm" belum sempat kalimatnya selesai bibirnya sudah kulumat.
Dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha melepaskan bibirku dari
bibirnya dan menjauhkan tanganku dari tubuhnya namun tidak berhasil
karena aku lebih kuat. Kudesak dia ke dinding sambil terus melumat
bibirnya, mulutnya masih terkatup belum mau membuka. Dia memberontak dan
secara tiba-tiba dia berhasil lepas dari cengkeramanku. Namun dengan
sigap aku berhasil meraih pergelangan tangannya, kudorong dan kuhimpit
dia ke arah mesin cuci.
“Aaaww...sakit!!” erangnya saat kutelikung tangannya ke belakang.
Tanganku yang satu menyusup lewat bagian atas celana dalamnya dan mulai
mengobok-obok di dalamnya. Aku merasakan bulu-bulu kemaluannya yang
sangat lebat, di antara kerimbunan bulunya jariku segera mengarah ke
belahannya dan menyeruak masuk.
“Aaahhh Ric!!” erangnya ketika kugesek-gesekkan jariku pada bibir vaginanya yang sudah becek.
Kuintensifkan serangan jariku pada vaginanya untuk menjinakkannya.
Tubuhnya menggeliat-geliat menahan sensasi itu. Beberapa saat kemudian
setelah merasa ia tidak terlalu memberontak lagi, aku melepaskan
tangannya dan beralih menyingkap kaosnya sehingga kelihatan dada
montoknya yang masih tertutup bra berwarna pink bergerak naik turun
mengikuti irama nafasnya. Kemudian kutarik ke atas cup branya dan
terpampanglah kedua gunung kembar Amel yang indah dengan putingnya yang
kemerahan tegang naik turun dengan cepat karena nafasnya sudah yang
tidak teratur.
“Mel, gua entot sekarang ya, udah basah gini, lu juga konak kan wakaka!”
sahutku sambil memeloroti celana dalamnya hingga ke lutut dan
kutempelkan kepala penisku ke bibir vaginanya.
"Ooohh.., oohh.., jaanggaann.., jaannggaann!" tolaknya namun dengan suara mendesah
"Ssttt...jangan ribut Mel...tar kedengeran orang di luar, kita lagi
outdoor loh, mendingan enjoy my cock, wether you like it or not!"
“Aaaaahh!” sebuah desahan panjang terlontar dari mulutnya saat kutekan penisku hingga amblas ke vaginanya.
Setelah semakin lama semakin penisku semakin lancar keluar masuk ke
vaginanya karena daerah itu semakin berlendir. Aku dapat merasakan
penisku masuk hingga menyentuh ke dalam rahimnya. Aku menyetubuhinya
dengan tempo sedang sambil memberikan sentuhan-sentuhan erotis pada
tubuhnya dengan lembut. Lama-lama dia pun terhanyut dalam permainan yang
kupimpin dan mulai mengikuti iramanya. Kedua puting payudaranya
kupilin-pilin sampai terasa semakin keras di tanganku. Kuperhatikan
roman wajahnya yang manis itu semakin merah dan semakin menggairahkan
kalau lagi horny begitu.
"Ooohh.. Mmmhh.." desah Amel mengiringi persetubuhan kami.
"Mel... Ssshh...asoy Mel!!" lenguhku, “lu suka kan dientotin gini?”
"Ngaco...siapa yang enjoy?" sahut Amel sewot
Hhhmmm...masih jaim juga nih cewek, akan kukerjai dia sampai takluk.
Maka di tengah genjotan tiba-tiba aku berhenti dan kucabut perlahan
penisku.
“Loh kok?” Amel membalik dan menatapku heran, terlihat sekali ia merasa
kekecewa dan tanggung, ia pasti masih menginginkan penisku berada dalam
relung kewanitaannya dan mengobok-oboknya dengan ganas.
“Loh kok apa Mel, kan katanya siapa yang enjoy?” kataku dengan senyum menggoda
Kupandangi wajah kecewa Amel sambil tetap meremas-remas payudaranya.
"Please...Ric!" ucapnya pelan.
“Please apa? Ngomong dong!” kataku terus menggodanya.
Jarinya bergerak menggantikan penisku bermain di sekitar kemaluannya.
Digosok-gosoknya vaginanya yang sudah benar-benar becek itu. Ia
benar-benar menginginkan penis ku terus mengobok-obok vaginanya. Sambil
mengelus-elus dan mengeluar masukkan jari tangan kanannya ke dalam
vaginanya, ia menggelinjang dan merintih. Sementara itu tangan kirinya
mulai meremas-remas payudaranya sendiri.
"Please...perkosa guaa...entot gua...aahhh... perlakukan aku sesukamu Ric! " racau Amel tanpa malu-malu lagi.
Tidak pernah kusangka Amel yang terlihat seperti gadis alim itu bisa
memohon seperti orang haus seks seperti ini. Penampilan memang
seringkali menipu. Aku masih terus menggodanya, kupegang selangkangannya
dan jariku bergerak mengocoki vaginanya menyebabkan ia semakin terbakar
birahi dan semakin mendesis-desis serta menggeliat tak karuan. Kuangkat
dagunya lalu aku mulai mencium mulutnya, kumainkan lidahnya. Sambil
terus berciuman dan mendekap tubuhnya, aku menurunkan tubuhku hingga
terduduk di sebelah mesin cuci dan bersandar ke tembok sementara Amel
kini di pangkuanku. Mulutku turun ke dadanya dan menciumi payudaranya,
kukenyot-kenyot kedua payudaranya bergantian sampai basah kuyup karena
keringat dan juga air liurku.
“Naik sini Mel!” kataku sambil memegang penisku.
Tanpa buang-buang waktu, Amel pun menaiki batang kejantananku hingga benda itu terbenam dalam vaginanya.
"Aahh.. aahh..!" erangannya menahan nikmat.
Amel mulai menaik-turunkan tubuhnya dari tempo lambat berangsur-angsur
naik dan cepat sekali sampai terdengar suara becek seiring dengan suara
benturan alat kelamin kami. Slep.. slep...cplok.. cplok...demikian
kira-kira bunyinya.Ekspresi wajahnya yang sedang menikmati genjotan
penisku dalam vaginanya benar-benar seksi. Kedua payudaranya yang
bergoyang-goyang di depan wajahku kembali kuhisap sekaligus kuhirup
aroma tubuhnya yang berkeringat bercampur wangi parfumnya, membuat
gairahku bertambah. Wajah Amel menengadah ke atas sambil terus mendesah,
leher jenjangnya basah dengan keringat. Gerakan pinggul nya semakin tak
beraturan, kadang berputar kadang naik-turun. Penisku pun makin basah
oleh cairan yang keluar dari liang kemaluannya. Sambil terus bergerak
naik-turun, ia meremasi rambutku dan menekan wajahku ke payudaranya
“Isepin Ric, isep yang kuat....aahhh enak!!” desahnya lirih.
Akupun mengenyot payudaranya semakin liar, tanganku juga terus menggerangi bagian tubuh lainnya.
Tak lama kemudian Amel merintih, "Ooh...Ric, gua mau keluar...uuhhhhh...".
Dengan menahan sekuat tenaga agar tidak orgasme duluan, aku yang tadinya
pasif, kini menggerakkan pinggul menyambut genjotan dalam vaginanya.
Dan....
"Arrggghhh....keluar Ric!!", Amel mendesah panjang seperti melepaskan suatu beban berat dalam dirinya.
Sedangkan aku hanya bisa menambah 2-3 sentakan lagi sebelum kutarik
keluar penisku. Aku ingin keluar di mulutnya dan merasakan teknik
oralnya.
“Isepin Mel!” kataku seraya menurunkan dia dari pangkuanku
Aku lalu berdiri sementara Amel berlutut di hadapanku meraih penisku
yang sudah basah. Ia membuka mulutnya dan mengarahkan senjataku ke sana,
dan....
"Aaakkhh.." erangku saat ia mulai mengulum kepala penisku.
"Eeemmmm.....mmhhh" gumam Amel saat mengulum penisku
Tangannya tidak diam saja, kadang mengocok, kadang membelai lembut
batang penisku. Mataku setengah terpejam menikmati pelayanan mulut Amel
terhadap penisku. Amel pun kelihatannya sangat menikmati mengoral
penisku. Sensasi yang ditimbulkan akibat sapuan lidahnya pada kepala
penisku membuatku tegang sehingga tanganku meremas rambut Amel. Tangan
kananku meraih payudaranya dan memijatinya lembut, sementara tangan
kiriku mengelusi kepalanya. Tidak sampai lima menit kemudian, spermaku
muncrat di dalam mulutnya. Amel sempat kaget ketika penisku memuntahkan
lahar putihnya karena aku tidak memberinya peringatan, tapi selanjutnya
ia dapat menguasai semprotan-semprotan itu, tidak terlalu banyak memang
karena sudah terkuras sebagian ketika bersama Hany dan Angeline
sebelumnya. Mulutnya baru lepas ketika penisku berhenti ejakulasi dan
menyusut. Setelah itu ia menelan semua sperma yang tersisa di mulutnya.
Setelah selesai, Amel bangkit, ia memungut bra dan celana dalamnya yang
berceceran lalu dipakainya kembali dan merapikan kaos serta roknya yang
telah tersingkap ke atas. Ia lalu memberikan kecupan ringan di bibirku
“Puas?” tanyanya
Aku hanya mengganguk kemudian memeluknya.
“Udah ah! Sekarang bantuin gua aja!” sahutnya melepaskan diri dari dekapanku.
Aku membantunya memasukkan cucian dalam ember ke mesin cuci sambil
ngobrol-ngobrol santai menghilangkan kecanggungan diantara kita. Dia
bercerita tentang awalnya masuk kost ‘gila’ ini, ternyata kasusnya mirip
denganku, pacarnya diam-diam menduakannya dengan gadis lain setelah
berhasil merebut keperawanannya. Seorang kakak kelas, yang dulu pernah
kost disini tapi sudah keluar setelah lulus, yang mengajaknya ke sini.
Di kost/ klub orgy ini Amel juga dapat melampiaskan sisi liar dalam
dirinya, dimana ia merasa jenuh dengan imej cewek alim atau mahasiswi
teladan. Status cewek alim tersebut juga memberinya nilai lebih karena
lebih mewarnai kehidupan seks di klub ini. Ia juga mengaku sangat enjoy
menjadi budak seks di klub ini, setidaknya untuk saat ini. Gilaaa....!!
Dunia ini makin aneh aja.
“Jujur aja gua lebih suka diperkosa, langsung spontan gitu daripada
dikasih rayuan-rayuan gombal, sok gentle ke gua yang ujung-ujungnya
ngajak ML juga” demikian pengakuan Amel padaku, “di klub ini lah gua
bisa menjadi diri gua yang lain selain sehari-hari yang membosankan itu”
Setelah memasukkan semua cucian ke mesin cuci lalu menyalakannya sambil
ngobrol beberapa topik yang nggak jelas, aku mengajak Amel makan bareng
karena memang sudah waktunya makan siang dan aku masih belum makan sejak
bangun tadi, tentu perut keroncongan apalagi tenaga terkuras menggarap
tiga wanita.
“Ih...ogah!” katanya sambil mengernyitkan dahi dan memandangku, “ntar
gua dikira makan sama orang gila ga pake baju kaya gini!” lanjutnya
sambil meremas penisku dan tersenyum.
“Eehhehe....ya gua pake baju dulu lah, yuk turun!” ajakku cengengesan
Akhirnya kita turun bareng. Di bawah, sayup-sayup terdengar suara
erangan dari kamar Angeline yang terletak dekat tangga, pintunya tidak
tertutup benar sehingga suara itu semakin terdengar ketika kami makin
mendekatinya.
“Wah Kak Angel keliatannya lagi asyik tuh Mel, padahal baru pulang dia!” kataku
“Liat aja kalau mau, ga usah malu-malu gitu!” kata Amel sambil dengan santainya mendorong pintu kamar Angeline hingga terbuka.
Aku langsung terpana melihat adegan di atas ranjang dimana Angel sedang
berdogie-style dengan Bang Obar, si tukang air, sambil menjilati vagina
Hany yang duduk bersandar pada kepala ranjang dengan mengakangkan kedua
kakinya. Ketiganya hanya menoleh sebentar ke arah pintu dan melanjutkan
pergumulan mereka ketika melihat yang datang adalah kami.
“Dah biasa kok di sini, asal liat situasi aja” kata Amel, “lu orang mau
titip apa ga? Kita mau keluar makan nih” tanyanya pada Hany dan Angel
yang sedang asyik berthreesome
“Emang mau pada kemana nih? Eeeemmmh!” tanya Hany yang sedang menikmati jilatan Angel pada vaginanya.
“Paling ke pujasera seberang warnet itu Han” jawabku
“Kalo gitu...titip pempek ya...aahh....dua kapal selam besar, yang
pedes...aaahhh....iyah Kak, jilat lebih dalam!” desahnya sambil meremas
rambut Angel
Sementara itu Angel masih ditunggangi oleh Bang Obar yang terus memompa
lubang vaginanya dengan tusukan-tusukan yang keras sehingga tubuh
telanjangnya tersentak-sentak dan terkadang bibir luar kemaluannya ikut
melesak masuk karena kecepatan sodokan penis pria itu, ditambah lagi
ukurannya lumayan besar. Payudara Angel yang indah itupun tak lepas dari
sasaran Bang Obar, kedua daging kenyal itu diremas dengan penuh nafsu
oleh si pengantar air tersebut dari belakang sembari sesekali meremas
dan menampar pantatnya.
“Enak kan Non Angel? udah lama gak ketemu, Abang kangen banget nih”
sahur Bang Obar, “Ayo ikutan aja sini daripada bengong gitu!” ajaknya
pada kami.
“Ngga ah, laper, cape, lagian di dalem udah sempit gitu!” jawab Amel
dengan santai, “gih...lu pake baju dulu Ric!” ia menyapukan pandangan
“Okay....tunggu ya Mel!”
Aku buru-buru ke kamar untuk segera berpakaian. Setelah memakai baju dan
celana kupastikan HP dan dompet sudah masuk ke celana, lalu aku masuk
ke kamar mandi di kamarku untuk pipis dan merapikan rambut. Merasa sudah
cukup berbenah diri, aku pun siap berangkat. Tapi sebelum aku
melangkahkan kaki keluar kamar aku sudah tercekat melihat Pak Kasimun
tengah mendekap tubuh Amel dari belakang sambil menciumi leher
jenjangnya. Mata Amel setengah terpejam menikmati belaian Pak Kasimun
pada tubuhnya, tangannya terlihat mengelus-elus selangkangan si penjaga
kost itu dari luar celananya. Sementara tangan Pak Kasimun menyingkap
rok denimnya dan mengelusi paha mulusnya, tangan satunya menyingkap kaos
Amel hingga bra-nya terlihat lalu dengan lincah menyusup ke balik cup
bra itu. Penasaran dan nafsu, aku menunda keluar dan terus mengintip
dari jendela kamarku.
“Eeenngghh!” Amel mendesah lebih keras ketika tangan Pak Kasimun masuk
ke balik celana dalamnya dan mengobok-obok di sana, “jangan sekarang
Pak, mau keluar dulu nih!” erangnya lirih.
“Sebentar aja Non, kan Den Rico nya juga masih beres-beres di kamar tuh”
jawab pria itu sambil melirik ke kamarku, namun tidak melihatku karena
aku mengintip melalui celah antara tirai yang menutupi jendela kamar.
Aku terangsang dan penasaran untuk melihat tindakan mereka berdua lebih
jauh tapi tidak tahu kenapa, kok saat itu ada rasa cemburu dalam diriku
melihat Amel diperlakukan seperti itu, oleh penjaga kost bertampang di
bawah standar itu pula. Apakah mulai timbul rasa suka pada Amel dalam
hatiku? Padahal selama ini aku tidak pernah menaruh perasaan tersebut
terhadapnya walau memang kuakui kecantikan dan prestasinya yang cukup
lumayan di kampus. Namun saat ini aku memutuskan untuk terus menyaksikan
mereka tanpa berusaha menghentikannya. Pak Kasimun mendorong tubuh Amel
hingga terhimpit pada tembok di sebelah pintu kamar Angeline, kemudian
tangannya dengan lincah menurunkan celana dalam Amel hingga ke lutut dan
kakinya menggeser sedikit kedua kaki Amel agar lebih membuka.
Setelahnya, pria itu dengan buru-buru membuka resleting celananya dan
mengeluarkan penisnya. Wah benda itu lumayan gede juga dan masih
ngaceng.
"Oghh.." kudengar lenguhan Pak Kasimun saat ujung penisnya melesak ke vagina Amel.
"Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh" Amel juga mendesis tercekat.
Pak Kasimun sepertinya agak kesulitan mendorong penisnya masuk ke dalam
liang vagina Amel yang lumayan peret itu. Berkali-kali ia terus
mendorong batang penisnya. Amel pun ikut membantunya dengan menggeser
pantatnya hingga penis pria itu terdorong masuk. Tubuhku gemetar karena
terangsang menonton adegan mereka
"Ouchh.. Hhahh.." desahan Amel semakin nyaring terdengar
Dengan pelan Pak Kasimun kembali menarik penisnya dari liang vagina Amel
lalu didorongnya lagi hingga bertambah dalam batang itu menerobos masuk
ke dalam vagina Amel yang sudah mulai bisa beradaptasi. Kini mulailah
si penjaga kost itu bergerak maju mundur dengan cepat. Tangan Pak
Kasimun yang tadinya berpegangan pada kedua sisi pinggul Amel mulai
menyusup ke balik branya yang sudah tersingkap dan bergerak meremas
kedua payudaranya. Tubuh Amel menggelinjang saat menikmati sodokan Pak
Kasimun dengan tempo cepat itu ditambah remasan pada payudaranya.
Sungguh pemandangan yang sexy. Posisi bersetubuhnya persis seperti
ketika denganku di tempat jemuran tadi. Setelah kurang lebih lima menit
menyaksikan adegan yang mendebarkan itu, perasaanku sungguh campur aduk
antara horny dan juga cemburu.
"Aauw..aaauww...udah mau Pak!" erang Amel sambil mendongakkan kepalanya,
“Bapak juga Non...uuuhh enaknya memek Non!” sahut Pak Kasimun sambil mempercepat kocokan penisnya
Tak lama kemudian tampak tubuh Amel mengejang diiringi erangan
panjangnya "Aahh.. aakkhh.. oohh keluaar Pak!" matanya membeliak-beliak
dan mulutnya terbuka menganga lebar.
Kini aku pun keluar dari pengintaian menghampiri mereka. Kulihat mereka
sepertinya biasa saja kupergoki dalam keadaan seperti itu,
"Ooppss...Den Rico" sapa Pak Kasimun "selamat yah Den, akhirnya masuk jadi anggota juga" katanya.
“Uuuhh...lama amat sih, jadi aja gua keburu dientot sama Pak Kasimun
tuh” Amel sedikit mengomel sambil merapikan kembali pakaiannya, “Yuk
buruan, gua laper nih!”
Di dalam kamar sana, pergumulan panas masih berlanjut, kini Hany sedang
naik turun di atas penis Bang Obar sementara Angel berlutut di atas
wajah si pengantar air itu berhadapan dengan Hany, keduanya berpelukan
saling berpagutan bibir dan saling raba tubuh masing-masing. Bang Obar
yang berbaring telentang di bawah kedua wanita itu sepertinya enjoy
banget melumat dan mengorek-ngorek vagina Angel sambil menikmati
penisnya dikocok-kocok oleh vagina Hany. Adegan selanjutnya terputus
karena Amel menutup pintu kamar itu dan menarik lenganku agar segera
beranjak dari situ.
“Ntar malem yah Non! Hehehe...bapak tunggu nih!” goda Pak Kasimun sambil meremas pantat Amel.
“Yah, asal saya udah selesai bikin tugas kuliah deh” jawab Amel asal
Kuraih tangan Amel dan berlalu dari situ. Saat kugenggam tangannya
kurasakan jantungku berdegub lebih cepat, apakah memang benar mulai
timbul rasa suka pada Amel? Aku belum bisa menjawabnya, biarlah semua
berjalan secara alami saja.
Diberdayakan oleh Blogger.